"Alhamdulillah" seraya menghembuskan nafas lega. Kini aku telah usai dengan urusanku. Bucket list perjalanan yang telah lama ku tulis seperti berseru memanggil tanpa sabar. Ada satu Negara yang telah lama menarik perhatianku. Negara yang dulu pernah berjaya namun kini tak lagi berdaya. Rasa ingin menguak jejak-jejak Islam ratusan lalu yg nyaris hilang ntah kemana semakin besar dan tak terelakkan. Negara yang merupakan jalan utama masuknya peradaban Islam sekaligus awal dari perjalananku esok.
Surat-surat telah lengkap dan segala persiapan telah siap terkendali. Menjadi seorang traveler adalah mimpi yang tak nyata dulu. Sekarang, aku percaya pada takdir tuhan, bahwa tidak ada yang mustahil dan segala hal mudah baginya. Mengolah pikiran negatif menjadi positif itu penting untuk kesehatan mental.
Masa muda jangan di habiskan untuk memikirkan hal yang tak seharusnya di pikirkan. Soal asmara, aku pernah patah akan hal itu, butuh berbulan-bulan lamanya untuk benar-benar menyembuhkan hati. Berbagai cara aku lakukan, mulai healing kabur dari pondok pesantren menuju rumah teman lalu menyiksa diri sendiri dengan banyak mengkonsumsi makanan yang gak sehat, dengan kuantitas berlebih. Segala hal aku lampiaskan pada makanan.
Sampai tiba dimana aku lelah dan akhirnya menemukan jalan untuk pulang. Aku turahkan segala keluh ku pada-NYA. Hingga tiba dimana aku menemukan banyak keajaiban dan menjadi diriku dengan versi terbaru. Tak ada rasa sakit, yang ada hanyalah ketenangan hati. Aku harap terus merasakan perasaan yang tenang seperti ini.
Hingga tiba saatnya di dalam perjalan panjangku, aku menemukanmu, atau engkau yang menemukanku. Aku harap takdir berpihak baik. Saat ini, biarlah aku menentukan dan menempuh jalanku sendiri tanpamu. Seseorang yang aku belum tau dimana keberadaannya, seseorang yang kelak tertakdir untukku, seseorang yang tertulis namanya di laukhil mahfudz. Aku harap engkaulah pilihan terbaik yang di kirim pencipta kepadaku. See you soon my future.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar